Hai guys, long time no
see. Yoi, udah lama nih ga curhat di blog pribadi.
Saya awali dari sebuah
film dan saya pribadi lebih suka film yang true
story atau sejenisnya. Entah kenapa suka film dengan genre begitu, mungkin
itu salah satu cara belajar sejarah yang menyenangkan meskipun ga 100% di film
tersebut sesuai dengan kejadian aslinya. Googling serta nyari referensi film
apa yang bagus buat ditonton dan akhirnya nemu film berjudul “Freedom Writers”
Awalnya saya pikir
salah nonton film karena judul dan film tersebut ga sesuai, judulnya penulis
tapi kenapa nyeritain tentang guru dan siswa-siswanya yang berbeda SARA. Saya pribadi
ga suka baca sinopsis sebuah film terlebih dahulu sebelum nonton, biar
penasaran ceritanya hehehe.
Jadi film tersebut
menceritakan perjuangan seorang guru untuk menyatukan murid-muridnya yang
secara SARA berbeda. Memang ga ada gunanya juga kehilangan nyawa hanya untuk
membanggakan suatu golongan, bukankah semua manusia itu sama di mata Tuhan? Saya
gakan bahas tentang itu, tapi mau bahas tentang perjuangan seorang Erin
Gruwell.
Ada momen “lucu” yang
membuat saya ingat tahun 2015. Yap, Erin Gruwell rela melakukan 3 pekerjaan
agar bisa membuat siswa-siswanya belajar apa itu artinya saling menghargai sesama manusia. Banyak hal yang dilakukan Erin agar semua siswanya bisa melakukan hal
itu. Buat kalian yang belum nonton, coba deh luangin waktunya kurang lebih 2
jam untuk nonton film keren ini.
Saya tau rasanya triple jobs seperti yang Erin lakukan, karena
saya pernah mengalami hal tersebut tahun 2015. Ga ngerasain libur 3 bulan
sampai ada momen kayak yang udah ga bisa mikir lagi ini otak (lebay). Yang
pasti seseorang gakan pernah tau rasanya jadi A ketika orang itu belum pernah
ada di posisi A. Mungkin istilah bahasa kerennya “don't judge a situation you've never been in”
Yang pasti saya rela triple jobs karena berjuang untuk diri
sendiri, sedangkan Erin melakukan itu untuk perdamaian di dunia. Jadi menurut
kalian siapa yang lebih keren? Yang pasti Erin Gruwell lah hahaha.
Selama Erin melakukan triple jobs, dia ga ada waktu buat
pasangannya dan sampai akhirnya mereka bercerai. Nah momen itu yang membuat
saya tertawa (WHAT THE FU*K AING JUGA SAMA HAHAHA)
Saya tipe orang yang
males berhubungan “digital” karena saya lebih suka ketemu langsung. Posisinya
ketika itu sang pujaan hati sedang kerja di Jogja dan saya di Bandung. Mau nyusulin
ga ada libur (meskipun bisa juga sih izin ga masuk kerja) cuman sayang ketika
itu saya lagi menikmati ketiga kerjaan tersebut. Kadang ketika mau nyusulin pas
lagi ga punya duit (OH MONEY SAMPAI KAPAN KAMU AKAN JADI MASALAH SAYA?)
Pada waktu itu saya
ambil semua kerjaan tersebut karena memang butuh uang, kenapa? Karena saya
gamau ketika setiap main dengan sang pujaan hati, saya selalu dibayarin. Kadang
saya merasa jadi laki-laki yang beruntung, kadang juga merasa “ga malu gitu
dibayarin cewek mulu”
Jadi inti dari curhatan
ini menurut saya adalah luangkanlah waktu bersama pasangan kalian dan hidup itu
diwajibkan untuk memilih, baik memilih kerjaan, pasangan, presiden, atau yang
lainnya. Hanya kita lahir dari rahim siapa yang ga bisa kita pilih dan itu
namanya takdir. SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar