Senin, 10 Agustus 2015

TERIMA AKU APA ADANYA

Entah kenapa kalimat ini sangat-sangat menggelitik atau kata orang Sunda mah ngeleketek dan mengganggu pikiran saya. Mungkin pernah diantara kalian putus sama pacarnya gara-gara kalimat ini. "Yaudah klo kamu ga bisa nerima aku, kita putus aja!" Huuu such a cliche love story. Sukur! Emang enak bobogohan! (Emang enak pacaran)

And this is my opinion

Ga salah kok pake kata-kata "terima apa adanya" klo di kondisi yang tepat. Misalkan terlanjur sayang sama cewek yang udah ga virgin, pacaran ama orang (maaf) dengan keadaan lahir yang tidak sempurna. Keadaan dimana kekurangan seseorang tidak dapat diperbaiki lagi.
Pasanganmu ga peka, pasanganmu terlalu dingin (mungkin dia es batu bukan manusia), pasanganmu tukang bohong, pasanganmu suka ngupil di depan umum, pasanganmu kentut dimana aja, dan itu bukan salah satu excuse di kalimat “terima aku apa adanya”. Bisa dibenerin, diperbaiki, dibenahi, atau sama aja?

Kita analogikan seperti ini :
Kamu dikasih mobil sedan lama dengan kondisi yang sangat parah. Rem blong, spion bengkok, setir jajar genjang, jok arateul (bikin gatel), ban kotak, dan gigi tinggal dua menclok di jendela hehehe. Walaupun itu sedan bukan Land rover tetep kita terima apa adanya kan? Berjalannya waktu apa ga mau kamu perbaiki satu-satu kekurangannya, ya at least biar enak dipake atau bikin nyaman. Get it?
Siapa sih orang di dunia ini yang mau nerima sesuatu apa adanya klo bisa dirubah jadi lebih baik? Eh ada ketang jelema belegug (orang bego).

Hati-hati terkadang kalimat "terima apa adanya" sering dijadiin excuse beberapa orang dengan pola pikir sempit dan tertutup yang tidak mau maju dan menjadi lebih baik.
Sekali lagi ini cuma opini saya, maaf klo ada yang kasepet ya kasep dan geulis (maaf klo ada yang kesindir ya tampan dan cantik). Hell bloody yeah!!!

By : M. Rizki Ramadhan

*brbnyetelTulus #JanganCintaiAkuApaAdanya 

Jumat, 07 Agustus 2015

BANDUNG - DENPASAR PP MURAH

Yap sesuai dengan judul artikel ini "BANDUNG - DENPASAR PP MURAH" saya disini mau membagikan sedikit pengalaman saya tentang perjalanan saya dari Bandung ke Denpasar melalui jalur darat. Kebanyakan orang pasti bakalan lebih memilih naik pesawat kalau mau ke Denpasar karena efisiensi waktu, tapi gak ada salahnya kalau Akang Teteh sekalian mau nyoba pake jalur darat (itung-itung pengalaman baru) hehehe. 

Pake jalur darat bisa pake kendaraan pribadi, seperti motor dan mobil. Sempet ketemu ama orang Bandung yang ada di Denpasar, katanya dia dari Bandung ke Denpasar pake motor sekitar 2 hari 2 malam (wah lama juga ya) udah termasuk istirahat ya itu. Lalu ketemu juga ama orang Garut yang punya toko tas di daerah Tabanan (Bali). Perjalanan Garut - Tabanan pake mobil pribadi sekitar 30 jam (sama ini juga udah termasuk waktu istirahat dan dalam keadaan ga macet).

Nah kalau saya Bandung - Denpasar memang lewat jalur darat, tapi pake kendaraan umum (kereta api). Seru loh dari Bandung ke Denpasar naek kereta api, ya meskipun di Pulau Bali mah gak ada kereta api (hiks hiks hiks sedih).

Okay mari kita mulai perjalanan kereta api ini (tut tut tuttttt)

Image from google

Di Stasiun Kiaracondong (Bandung) kita naik kereta api jurusan Lempuyangan (Yogyakarta). Perjalanan memakan waktu sekitar 9 jam, maklum lah naik kereta ekonomi KA Kahuripan. Harga tiket pada saat itu (Juli 2015) Rp 90.000 termasuk murah karena masih dalam rangka libur Lebaran. 

Sesampainya di Stasiun Lempuyangan (Yogyakarta) perjalanan dilanjut lagi menuju Stasiun Banyuwangi Baru (Banyuwangi). Dari Lempuyangan ke Banyuwangi pake kereta api ekonomi Sri Tanjung harga tiketnya Rp 100.000 dengan waktu tempuh sekitar 14 jam.

Tiba di Stasiun Banyuwangi Baru sekitar pukul 21.15 WIB lalu dilanjut jalan kaki menuju Pelabuhan Ketapang. Kenapa jalan kaki? Gambar di bawah nunjukin kalau jarak dari Stasiun Banyuwangi Baru (titik biru) ke Pelabuhan Ketapang (tebak sendiri ya hehehe) cukup dekat, paling jalan kaki sekitar 15 menitan Akang Teteh.




Ketika kita udah nyampe di Pelabuhan Ketapang, itu waktunya kita ganti kendaraan umum (horeee naik kapal ferry). Harga tiketnya cuman Rp 8.000 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam (Pelabuhan Ketapang - Pelabuhan Gilimanuk). Bagi yang belum pernah naik kapal ferry, cobain deh biar hidup kita komplit karena udah pernah naik semua moda transportasi di Indonesia hehehe.

Pada saat saya nyampe di Pelabuhan Gilimanuk (Bali) waktu menunjukan pukul 00:05 WITA dan perjalanan menuju Denpasar tinggal selangkah lagi. Di Gilimanuk kita pake bis menuju Denpasar, ongkosnya Rp 50.000 dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Beruntung pada saat itu saya penumpang terakhir di bis itu, jadi ketika saya masuk ke dalam bis, langsung caw aja menuju Denpasar.

Bali, I'm coming hahaha

Di Denpasar saya sarankan berhenti di Terminal Ubung daripada Terminal Mengwi.

Untuk lanjutannya, ntar saya update lagi. Thanks